Panas itu berakhir. Selesai? Apa neraka ini sudah berakhir? Kurasa sudah. Hawanya sudah mulai terasa dingin. Aku lega sekali. Aku kira aku akan mati karena siksaan itu. Kubuka mataku. Yg pertama kali aku lihat adalah atap kayu yg dikerikiti rayap. Serbuk serbuk kayu berjatuhan. Wow, aku bisa melihat detil atap itu, bahkan serbuk kayunya. Tiba tiba suasana hatiku serasa bahagia. Kujulurkan tanganku untuk meraih serbuk kayu itu. Aneh, setelah diperhatikan tanganku tampak begitu mulus dan putih. Seperti kertas. Lalubaku segera bangun. Biasanya dalam urusan bangun, tubuhku kaku sekali. Tapi kali ini entah kenapa badanku terasa ringan. Serasa aku bisa melakukan apapun di dunia ini. Keren. Aku segera memperhatikan tubuhku. Tidak ada yg berbeda. Tanganku tetap sekurus biasanya, tapi.... tanganku. Tanganku terlihat kuat. Entah kenapa. Perasaanku mengatakan hal itu. Setelah puas mengamati tubuhku aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi. Ini sepertinya gudang yg kemaren aku datangi bersama adam, atau hunter. Entahlah. Segera ak mencari pintu, aku ingin segera keluar dari tempat ini. Rasanya pengap. Aku mencoba menarik napas. Tidak terasa lega. Memang benar ada oksigen masuk, tapi tidak terasa melegakan seperti biasanya. Aneh. Aku tengok kanan dan kiri dan melihat ada sebuah pintu yang tampaknya dikunci. Aku berlari menuju pintu itu, tapi cepat sekali lariku. Aku bahkan belum sempat mengedip ketika sampai disana. Lagi lagi aneh. Setelah kuperhatikan, di dekat pintu itu ada sebuah lemari yg di pintunya terdapat cermin. Kulihat bayangan diriku di pintu itu. Wow, aku aku.... cantik? Baru pertama kali ini aku merasa cantik. Merasa sempurna. Bahagia sepenuhnya. Kulitku seputih salju, rambutku menjadi pirang emas, wajahku seakan dipahat ulang, menjadi jauh lebih sempurna dari anna yang dulu. Yang biasa biasa saja. Mungkin sekarang kecantikanku mengalahkan Judith. Cewek tercantik seangkatanku. Tapi ada yang aneh, mataku tidak seperti biasanya. Mana mataku yg dulu? Yg berwarna hijau ke abu abuan yg menurutku aneh. Mataku sekarang sewarna merah darah. Ada apa ini? Apa ada yang tidak normal denganku? Saat itu juga aku mulai panik. Aku takut akan ada sesuatu yg terjadi padaku. Aku segera membuka pintu. Bisa kurasakan, memang pintu itu terkunci. Aku berusaha menarik selotnya lebih kuat, walau aku yakin tidak akan ada gunanya. Tapi sewaktu aku menarik selotnya dengan keras, BRAKKK. pintu itu lepas dari engselnya? Hebat. Bagaimana bisa begitu? Aku kira itu hanya karena bangunan ini sudah rapuh. Segera setelah aku keluar ke sinar matahari, bisa kulihat kulitku berkelap kelip. Aku semakin yakin ada sesuatu yg tidak normal dariku. Seketika itu juga ada seekor kucing liar dengan matanya yg kuning berlari melewatiku. Baunya... baunya enak. Seperti pizza? Aku berusaha mencium lagi bau si kucing. Aku kejar kucing yg berlari itu. Semakin dekat baunya semakin enak saja. Aku pun terpacu untuk mempercepat lariku mendekati si kucing. Hap. Aku melompat dan mendarat di atas kucing. Tapi, kucing itu mati karena ditindih berat tubuhku. Kucing itu mengeluarkan darah. Baunya enak. Segera aku colek sedikit darah itu, secara instingtif aku masukkan jariku ke mulut. Hm, enak. Setelah mencoba darah si kucing tenggorokanku yang dulunya sekering amplas lumayan terpuaskan. Segera aku meminum semua darah si kucing. Masih kurang rasanya. Tiba tiba ada suara yg memanggilku "Anna? Apakah itu kau?" Segera aku menoleh ke arah sumber suara. Itu adalah pria asing yg kemarin. Yg mengaku Adam. "Kau Hunter?" "Ya, atau Adam. Terserahlah" "namamu ada 2? Aneh" "bukan, nama asliku adam, hunter hanyalah nama samaranku" ujarnya sambil mengedikkan bahu. Setelah kulihat, adam oke juga. Tubuhnya atletis, tidak jelek. Segera kuhampiri dia. "Kenapa kamu masih memakai behel itu Anna? Setelah kamu meminum darah si kucing behelmu jadi ternoda darah" mendengar itu aku merasa malu. Bodoh sekali aku tidak memerhatikan gigiku sebelum bertemu cowok sempurna ini. "Ah, aku pasti terlihat konyol" "tidak, kau selalu terlihat cantik" aku bjsa merasakan bahwa kami berdua merasa malu. "Lebih baik aku lepas behelmu ya" adam menawarkan diri. "Tapi aku tidak membawa kartu rumah sakitku" aku mengira kita akan mencopot behelku di rumah sakit. "Tidak perlu sayang. Sini tunjukkan gigimu" ujarnya dengan lembut. Aku segera memamerkan gigiku. Lalu adam menarik behelku dengan cepat, dan wow, lepas sudah. "Wow, kamu kuat sekali. Dan terampil. Bahkan gigiku tidak ada yang copot" "Anna, tidakkah kamu mengerti?" "Mengerti apa?" Tanyaku dengan heran. "Kita bukan manusia" katanya perlahan. "Bukan? Lalu apa?" "Um, kata pencipta ku kita ini vampir" katanya dengan sumringah. Awalnya aku bingung. Apa yg dia maksud demgan vampir? Aku tidak percaya akan hal hal seperti itu sebelumnya. "Whoa whoa, apa yg kau maksud dengan vampir dan pencipta?" "Jadi, kita ini sebenarnya vampir, bukan manusia. Dan pencipta berarti yang menciptakan kita jadi vampir". Sejenak aku menyerap informasi tersebut. "Berarti penciptaku siapa?" "Hahaha, tidakkah kau sadar? Aku lah penciptamu anna". "Dan rasa kering di tenggorokan ini berarti apa?" "Itu tandanya kau haus. Mari kita berburu" sejenak aku bingung. Berburu? Apa maksudnya. Tampaknya adam melihat ekspresi bingung di wajahku, karena ia lalu berkata "berburu berarti meminum darah seperti yang kau lakukan tadi" "oh, hal itu. Hal itu sungguh menyenangkan. Ayo kita lakukan. Tapi aku punya satu pertanyaan untukmu" "sudah cukup penjelasan untuk hari ini" "ayolaah 1 pertanyaan saja" "um, baik. Apa?" "Mengapa kau menjadikanku vampir? Dan siapa penciptamu?" "Itu berarti 2 pertanyaan. Dan berarti akan dijawab besok" katanya sambil menjulurkan lidah. Manis sekali tampangnya. "Yah baiklah mari kita berburu"
Bersambung
-H