enjoy!

Rabu, 06 Maret 2013

I'm not ordinary? (Part 2)

Panas itu berakhir. Selesai? Apa neraka ini sudah berakhir? Kurasa sudah. Hawanya sudah mulai terasa dingin. Aku lega sekali. Aku kira aku akan mati karena siksaan itu. Kubuka mataku. Yg pertama kali aku lihat adalah atap kayu yg dikerikiti rayap. Serbuk serbuk kayu berjatuhan. Wow, aku bisa melihat detil atap itu, bahkan serbuk kayunya. Tiba tiba suasana hatiku serasa bahagia. Kujulurkan tanganku untuk meraih serbuk kayu itu. Aneh, setelah diperhatikan tanganku tampak begitu mulus dan putih. Seperti kertas. Lalubaku segera bangun. Biasanya dalam urusan bangun, tubuhku kaku sekali. Tapi kali ini entah kenapa badanku terasa ringan. Serasa aku bisa melakukan apapun di dunia ini. Keren. Aku segera memperhatikan tubuhku. Tidak ada yg berbeda. Tanganku tetap sekurus biasanya, tapi.... tanganku. Tanganku terlihat kuat. Entah kenapa. Perasaanku mengatakan hal itu. Setelah puas mengamati tubuhku aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi. Ini sepertinya gudang yg kemaren aku datangi bersama adam, atau hunter. Entahlah. Segera ak mencari pintu, aku ingin segera keluar dari tempat ini. Rasanya pengap. Aku mencoba menarik napas. Tidak terasa lega. Memang benar ada oksigen masuk, tapi tidak terasa melegakan seperti biasanya. Aneh. Aku tengok kanan dan kiri dan melihat ada sebuah pintu yang tampaknya dikunci. Aku berlari menuju pintu itu, tapi cepat sekali lariku. Aku bahkan belum sempat mengedip ketika sampai disana. Lagi lagi aneh. Setelah kuperhatikan, di dekat pintu itu ada sebuah lemari yg di pintunya terdapat cermin. Kulihat bayangan diriku di pintu itu. Wow, aku aku.... cantik? Baru pertama kali ini aku merasa cantik. Merasa sempurna. Bahagia sepenuhnya. Kulitku seputih salju, rambutku menjadi pirang emas, wajahku seakan dipahat ulang, menjadi jauh lebih sempurna dari anna yang dulu. Yang biasa biasa saja. Mungkin sekarang kecantikanku mengalahkan Judith. Cewek tercantik seangkatanku. Tapi ada yang aneh, mataku tidak seperti biasanya. Mana mataku yg dulu? Yg berwarna hijau ke abu abuan yg menurutku aneh. Mataku sekarang sewarna merah darah. Ada apa ini? Apa ada yang tidak normal denganku? Saat itu juga aku mulai panik. Aku takut akan ada sesuatu yg terjadi padaku. Aku segera membuka pintu. Bisa kurasakan, memang pintu itu terkunci. Aku berusaha menarik selotnya lebih kuat, walau aku yakin tidak akan ada gunanya. Tapi sewaktu aku menarik selotnya dengan keras, BRAKKK. pintu itu lepas dari engselnya? Hebat. Bagaimana bisa begitu? Aku kira itu hanya karena bangunan ini sudah rapuh. Segera setelah aku keluar ke sinar matahari, bisa kulihat kulitku berkelap kelip. Aku semakin yakin ada sesuatu yg tidak normal dariku. Seketika itu juga ada seekor kucing liar dengan matanya yg kuning berlari melewatiku. Baunya... baunya enak. Seperti pizza? Aku berusaha mencium lagi bau si kucing. Aku kejar kucing yg berlari itu. Semakin dekat baunya semakin enak saja. Aku pun terpacu untuk mempercepat lariku mendekati si kucing. Hap. Aku melompat dan mendarat di atas kucing. Tapi, kucing itu mati karena ditindih berat tubuhku. Kucing itu mengeluarkan darah. Baunya enak. Segera aku colek sedikit darah itu, secara instingtif aku masukkan jariku ke mulut. Hm, enak. Setelah mencoba darah si kucing tenggorokanku yang dulunya sekering amplas lumayan terpuaskan. Segera aku meminum semua darah si kucing. Masih kurang rasanya. Tiba tiba ada suara yg memanggilku "Anna? Apakah itu kau?" Segera aku menoleh ke arah sumber suara. Itu adalah pria asing yg kemarin. Yg mengaku Adam. "Kau Hunter?" "Ya, atau Adam. Terserahlah" "namamu ada 2? Aneh" "bukan, nama asliku adam, hunter hanyalah nama samaranku" ujarnya sambil mengedikkan bahu. Setelah kulihat, adam oke juga. Tubuhnya atletis, tidak jelek. Segera kuhampiri dia. "Kenapa kamu masih memakai behel itu Anna? Setelah kamu meminum darah si kucing behelmu jadi ternoda darah" mendengar itu aku merasa malu. Bodoh sekali aku tidak memerhatikan gigiku sebelum bertemu cowok sempurna ini. "Ah, aku pasti terlihat konyol" "tidak, kau selalu terlihat cantik" aku bjsa merasakan bahwa kami berdua merasa malu. "Lebih baik aku lepas behelmu ya" adam menawarkan diri. "Tapi aku tidak membawa kartu rumah sakitku" aku mengira kita akan mencopot behelku di rumah sakit. "Tidak perlu sayang. Sini tunjukkan gigimu" ujarnya dengan lembut. Aku segera memamerkan gigiku. Lalu adam menarik behelku dengan cepat, dan wow, lepas sudah. "Wow, kamu kuat sekali. Dan terampil. Bahkan gigiku tidak ada yang copot" "Anna, tidakkah kamu mengerti?" "Mengerti apa?" Tanyaku dengan heran. "Kita bukan manusia" katanya perlahan. "Bukan? Lalu apa?" "Um, kata pencipta ku kita ini vampir" katanya dengan sumringah. Awalnya aku bingung. Apa yg dia maksud demgan vampir? Aku tidak percaya akan hal hal seperti itu sebelumnya. "Whoa whoa, apa yg kau maksud dengan vampir dan pencipta?" "Jadi, kita ini sebenarnya vampir, bukan manusia. Dan pencipta berarti yang menciptakan kita jadi vampir". Sejenak aku menyerap informasi tersebut. "Berarti penciptaku siapa?" "Hahaha, tidakkah kau sadar? Aku lah penciptamu anna". "Dan rasa kering di tenggorokan ini berarti apa?" "Itu tandanya kau haus. Mari kita berburu" sejenak aku bingung. Berburu? Apa maksudnya. Tampaknya adam melihat ekspresi bingung di wajahku, karena ia lalu berkata "berburu berarti meminum darah seperti yang kau lakukan tadi" "oh, hal itu. Hal itu sungguh menyenangkan. Ayo kita lakukan. Tapi aku punya satu pertanyaan untukmu" "sudah cukup penjelasan untuk hari ini" "ayolaah 1 pertanyaan saja" "um, baik. Apa?" "Mengapa kau menjadikanku vampir? Dan siapa penciptamu?" "Itu berarti 2 pertanyaan. Dan berarti akan dijawab besok" katanya sambil menjulurkan lidah. Manis sekali tampangnya. "Yah baiklah mari kita berburu"

Bersambung
-H

I'm not ordinary? (part 1)

Aku terbangun pagi ini. Merasa lesu, malas dan sangat mengantuk. Tapi setidaknya aku bersyukur masih bisa bangun. Aku berpaling melihat jam, masih jam 6 pagi. Tapi aku teringat akan tugas sekolah yang lupa tidak kukerjakan. Aku cepat cepat membasuh muka dan memandangi wajahku di cermin. Tampak berantakan. Aku adalah Anna Sophia. Namaku mungkin cantik, tapi aku tidak. Biar aku beri deskripsi tentang diriku sedikit saja. Tubuhku kurus sekali, seperti orang tidak sehat, bukan seksi seperti teman teman kampusku, rambutku berwarna pirang, pirang kusam, bukan pirang emas seperti artis artis di tv, gigiku cukup rapi, tapi aku dipaksa menggunakan behel jelek ini, mataku berwarna hijau, tapi warnanya hampir keabu abuan. Aneh menurutku. Yah, itulah aku. Mungkin kamu bisa simpulkan bahwa aku jelek. Dan ya, itu memang benar. Aku masih single single saja. Aku rasa memang tidak mungkin ada anak laki laki yg mau jadi pasanganku, bahkan anak anak laki itu tidak pernah sekedar menoleh padaku. Ya, itulah sekilas deskripsi tentangku.
Setelah puas bercermin aku segera mengambil buku, kertas dan pensil. Aku mulai mengerjakan tugas matematikaku. Yah, mungkin aku bukan si jenius mat, tapi aku cukup jago di pelajaran ini. Tanganku dengan lincah menelusuri kertas tugas dan dalam hitungan menit tugas ku sudah selesai. Wow, itu tadi cepat. Lalu aku segera mengemasi pelajaranku hari ini dan segera bersiap siap berangkat ke kampus.
Kelasku hari ini dekat dengan lapangan basket, jadi aku segera berjalan ke gerbang samping tempat lapangan basket berada. "Wow, tumben. Disini sepi sekali" memang hari ini sepi. Perasaanku mulai tidak enak, jadi aku cepat cepat berjalan melewati lapangan basket. Tapi di ekor mataku, aku bisa melihat ada seorang anak laki laki yg tinggi, kekar di seberang lapangan basket. Aku segera mempercepat langkah.
-Skip pelajaran-
Akhirnya, waktunya pulang. Hal yang paling kunanti seharian ini hanyalah pulang. Entah kenapa.
Sesegera mungkin aku berjalan ke apartemen ku yg hanya berjarak 500meter dari kampus. Tetapi waktu aku keluar dari gerbang kampus ada seorang laki laki yang tinggi, kekar menghampiriku. Aku seperti pernah melihatnya.
"Hai, anna kan?" Sapanya. Wow aku kaget dia bisa mengerti namaku. "Em, iya. Kau siapa?" "Aku Hunter. Ayo mari kuantar pulang, tempat tinggalmu pasti tidak jauh dari sini" "umm, ya memang. Apartemenku berjarak 500 meter dari sini" tanpa perasaan apapun, aku mengiyakan ajakan si pria asing ini.
Sekitar 200 meter lagi dari apartemenku tiba tiba si Hunter ini menarikku ke arah yang berlawanan dari apartemenku. Aku berusaha berontak, tapi ia membekap mulutku dan membawaku di punggungnya. Tiba tiba ia berlari. Cepat sekali, bagaikan kilat. Rasanya sejuk di pundaknya, angin menerpa wajahku. Tiba tiba ia berhenti di suatu gudang tua yg kumuh dan kotor. "Anna, tidakkah kau ingat aku?" Pertanyaan yg aneh. Karena kalau aku pernah melihatnya aku pasti mengingatnya. Aku gampang sekali mengingat wajah orang. "Um, aku tidak ingat" "Aku Adam". Sesaat aku masih bingung. "Kau adam? Yang juara IPA beberapa waktu lalu kan?" "Ya Anna! Tak kusangka kau ingat aku." "Well, siapa yg tidak ingat? Kau pintar, jenius malah" sejenak adam tampak malu, dan gugup. "Anna, aku kesini hanya untuk memberitahumu bahwa...." "bahwa apa adam?" "Aku suka padamu anna, sejak aku melihatmu di kas matematika waktu itu" untung saja gudang ini gelap, kalau tidak ia pasti melihat wajahku memerah seperti kepiting rebus. Tiba tiba adam mendekatkan wajahnya ke leherku dan tiba tiba gelap. Dan yg kurasakan hanya panas. Rasa panas. Semakin panas. Pernah aku secara tidak sengaja menyentuh oven yg sedang memanggang dan rasanya panas sekali. Dan rasa panas yg ini seribu kali lebih panas daripada oven. Aku mungkin ingin menukar rasa panas yg ini dengan rasa panas oven itu 10 kali. Dan itu hal terakhir yg kuingat 

To be continued
-H

Sabtu, 02 Maret 2013

Never Think -Chapter 3-

- Author's P.O.V -

Sinar sang mentari mengawali peradaban hari ini. (Namamu) pun terbangun. Setidaknya, keadaannya sudah lebih baik daripada kemarin. (Namamu) memutuskan untuk tidak bekerja hari ini, daripada harus menahan sakit pada perutnya yang amat sangat.
Ia pun meraih handphone-nya. Ia menerima 1 buah pesan,

From : Germo

(Namamu) kamu harus kerja sekarang! Ada tawaran tinggi!
Lelaki ini berani membayarmu 15 Juta, cepat! Aku tak ingin membuatnya menunggu.

"Kerja lagi?" gumamnya
(Namamu) pun menjadi bingung. Ia mondar-mandir didepan cermin seraya memegang perutnya yang baru saja seperti di tusuk ribuan jarum kemarin.
"Aku gak mau sakit aku tambah parah." lirihnya
"Tapi, aku juga takut harus kayak kemarin."
Akhirnya, (namamu) memutuskan untuk memenuhi permintaan Germo-nya


- Rob's P.O.V -

"Pak, kok lama, sih? Saya keburu nggak ada waktu lagi!" omelku
Aku sedang berada disebuah tempat remang-remang. Sebenarnya, aku datang kemari bukan untuk benar-benar bermain bersama wanita disini. Gila saja.
Aku kesini hanya untuk mencari wanita kemarin yang aku temui di diskotik.
"Semoga yang aku tunggu memang wanita itu" harapku
"Pak, maaf saya telat," ujar seorang wanita
Nah! Akhirnya, aku benar-benar bertemu dengan wanita ini. Ia merasa sangat terkejut sepertinya.
Dan aku segera menarik dirinya menuju ke kamar nomor 02.


- Your P.O.V -

"Kenapa bisa... Lelaki ini...??" aku masih heran, kenapa lelaki ini memiliki hasrat yang begitu tinggi. Mengingat kemarin, dia baru saja melindungiku
Ia pun menutup pintu kamar dan segera memojokkanku di sudut dinding. Jujur, aku merasa sangat ketakutan. Aku takut, ia akan membunuhku.. Atau melakukan sesuatu yang jahat diluar profesiku
"Jangan curiga dulu," bisiknya
"Tatap aku!" ujarnya
Aku menatapnya. Matanya begitu indah, seperti sepasang mata intan.
"Aku hanya memintamu 1 hal..." ucapnya
"A... apa?" tanyaku
"Temani aku. Aku tidak ingin bermain denganmu. Aku, hanya ingin bercerita banyak tentang kehidupanku" ujarnya
"Ta... Tapi, kau sudah membayarku mahal hanya untuk aku mendengarkan ceritamu? Apakah itu tidak sayang?" aku menjadi tambah heran. Sepertinya, dia sedang gila-_-
Aku pun mulai mendengarkan ceritanya. Dan aku memberikan beberapa motivasi untuknya.
Hei, dia tidak seperti yang ku bayangkan. Dia menyenangkan! Dia seru!
"Namaku Robert Pattinson. Panggil aku Rob atau mungkin.... Spunk Ransom." ucapnya seraya tersenyum
"Spunk Ransom? Namamu Robert Pattinson itu lebih bagus daripada nama aneh itu" ucapku seraya tertawa kecil
"Hei, aku malah beropini kalau 'Robert Pattinson' itu lebih aneh daripada Spunk Ransom" dia konyol
"Kau ini... Aneh. Tapi, menyenangkan" aku tertawa bersamanya. Melewati malam pertama yang sangat indah bersama sang malaikat ini. Tuhan memang sudah mengirimkan malaikatnya untuk menghiasi hari-hariku


- Author's P.O.V -

Dan (namamu) pun tertidur disamping Rob yang sedang bercerita banyak. Rob pun menatapnya seraya tersenyum.
Akhirnya Rob mengangkat tubuh (namamu) ke kasur dengan pelan. Lalu menyelimutinya.
"Good night" Rob pun mencium kening sang wanita yang baru di kenalnya itu
"Cantik." Rob membisikkan kata itu ke telinga (namamu). Dan ia pun membaringkan tubuhnya di sofa.


- Bersambung

With Love from Author Kece,


Vera

Jumat, 01 Maret 2013

Never Think -Chapter 2-

- Author's P.O.V -

Seperti yang di katakan sebelumnya, Rob adalah anak yang lahir dengan keadaan berkecukupan, namun, kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Setiap kali ia jenuh, ia pasti pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ya, dia pergi ke diskotik.
Ia tak peduli peraturan, ia memarkirkan kendaraan roda duanya itu di sembarang tempat. Dan ia bergegas menuju ke diskotik itu. Bersiap menekan depresinya dengan meminum berbotol-botol(?) wine.

"Rob! Kemana saja kamu?" baru saja datang, Jack, temannya, langsung menghampiri. Tak hanya di hampiri oleh Jack. Beberapa 'b*tch' pun menghampiri Rob dengan gaya pesolek dan genit menciumi pipi Rob serta membelainya x_x. Namun, Rob tetap menutup rapat mulutnya. Ia tak ingin mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ayo, bang(?), kita main..." ajak salah satu b*tch itu
"I don't have many time to spend it with u" walaupun Rob sering ke diskotik dan mabuk, ia tak pernah mau melayani permintaan b*tch itu. Ia sadar, itu berbahaya bagi fisik dan psikisnya *puitis bingit._.*



- Rob's P.O.V -

"So STUPID B*TCH!!!" bentak salah satu germo berkepala kinclong(?) dan bertampang sangar itu
Perhatian seluruh pengunjung(?) termasuk aku pun tertuju pada bentakan seorang germo galak yang sedang memarahi seorang perempuan cantik berpakaian biru ketat itu
Apa yang terjadi dengan wanita secantik dia? Aku menjadi penasaran. Wanita itu pun menangis. Dan kalian harus tahu, aku paling tidak tega melihat wanita menjatuhkan satu tetes pun air matanya

'Plaaakkkkk!!!!'
Sungguh, ini membuat hatiku tergerak untuk membela wanita itu. Dan, 'Buugg!' aku menghajar sang germo kurangajar itu. 
"Jangan kasar terhadap perempuan! Atau kau tidak akan bisa membuka matamu lagi esok!" ancamku



- Your P.O.V -

Pada menit-menit penderitaanku, datanglah sosok malaikat sempurna membelaku
Aku seperti bermimpi. Mimpi yang kenyataan. Ada sosok lelaki yang mau membelaku seperti itu. Orang awam saja tak ada yang berani melawan germo-ku itu.
Dia menghampiriku yang terjatuh ini. Dan dia mendekati wajahku,
"Ada yang luka?" bisiknya dengan lembut. Suaranya benar-benar lembut, seperti kain sutra
Aku menggeleng
"Fisikmu memang tidak terluka. Tapi, aku tau kondisi psikismu saat ini." setelah bicara seperti itu, ia pergi entah kemana
Aku menunduk. Air mataku kembali mengalir dengan deras.
"Kakak, aku yakin kau telah bicara kepada Tuhan tentang segala penderitaanku. Dan, akhirnya Tuhan mengutus malaikatnya untukku."



- Author's P.O.V -

"Rob!" sapa Javelyn yang bangkit dari kursi ruang tamu
Rob tidak suka basa-basi. Dia pun mengacuhkan panggilan dari Javelyn
"Rob, dia ini calon isterimu, ayo sini. Duduk dan berbincang dengan kami" bujuk sang Ibunda Rob
Rob menatap mereka (Ibundanya, Javelyn dan orang tuanya) sekilas seraya mengepalkan tangannya. Ia benar-benar ingin sekali membunuh mereka semua *Gila-_-*
Rob mencoba 'Calm Down', ia memutuskan untuk pergi menuju kamarnya. Namanya juga orang emosi, ia pun menutup pintu kerajaannya itu dengan keras. Untung pintunya kuat, jadi gak jebol deh(?)
"Maaf ya, nyonya, tuan, Rob memang begitu. Mungkin dia kelelahan semalam tidak pulang" ucap sang Ibunda
"Javelyn, maaf ya. Mungkin dia masih malu untuk bertatap wajah dengan gadis secantik kamu" pujinya lagi
Padahal, Rob memang pada dasarnya tidak sudi untuk kenal dengan keluarga Javelyn.



- Your P.O.V -

"(Namamu), kamu tidak apa-apa, kan? Aku dengar kamu habis di marahi germo itu ya?" tanya Ashley, teman satu kontrakanku dengan panik. Ashley memang panikan-_-
"It just my fault" ujarku
"Tapi, wajahmu pucat. Aku antar kamu ke Rumah Sakit, ya?" tawar Ashley
"Ini hanya pucat karena kelelahan. Kau kan tahu pekerjaanku ini seperti apa. Aku ingin tidur saja" dan dengan langkah lemah, aku menuju ke kasurku
"Aww.." tiba-tiba perutku terasa sakit. Seperti di tusuk ribuan jarum. Ini wajar, aku harus terbiasa


*Bersambung*

Sincerly
Author Kece,



Vera